Ketika pernyataan itu saya lontarkan di kolom komentar dalam status Bapak Ma'rufin Sudibyo di Facebook saya mendapatkan respon yang cukup menarik dan bisa menjawab rasa penasaran saya. Respon beliau adalah :
Pantura Jawa adalah daratan yang baru saja terbentuk dan berusia sangat muda secara geologis. Kita lihat misalnya Semarang, di masa Mataram Kuno (12 abad silam) memiliki pelabuhan di kawasan kaki perbukitan Candi (jauh ke selatan dari garis pantai Semarang sekarang) yang kini sudah jadi daratan berpenduduk padat. Antara Demak dan Rembang di awal kesultanan Demak masih berupa laut sempit (selat) yang memisahkan pulau Jawa dengan Gunung Muria. Surabaya pada masa Majapahit juga belum ada dan hanya berupa rawa-rawa diselingi pulau-pulau kecil, sehingga pesisir Laut Jawa dan pelabuhan itu ada di Canggu (Mojokerto saat ini).
Jakarta pun sama saja, kalau dilacak balik ke masa Pajajaran, apalagi Tarumanagara, garis pantai saat itu lebih ke selatan dibanding garis pantai saat ini. Nama-nama yang mengandung kata "rawa" menandakan kearifan lokal sebagai pengingat asal usul setempat. Namun sedimentasi di pantura itu sangat intensif, rata-rata mampu memanjangkan daratan di muara sungai hingga 100 m. Makanya yang dulu masih berupa laut, rawa atau sejenisnya, berubah menjadi daratan, yang teknisnya disebut dataran banjir (floodplain).
Jadi konteks geografis di era Pajajaran dan sebelumnya sudah sangat berbeda dengan masa sekarang. Ini tak perlu disesali, hanya tinggal bagaimana penyikapannya. Karena secara geologis masih sangat muda, lapisan tanah Jakarta tetap butuh suntikan air secara kontinyu untuk menjaganya tetap kompak dan tak amblas.
Jadi seperti Pajajaran, kenapa tidak membangun ibukota di daratan yang sekarang bernama Jakarta karena waktu itu daratan ini belum ada ataupun masih betul-betul berupa rawa-rawa tanpa tanah keras yang memadai untuk dilakukan pembangunan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar